Thursday, July 11, 2019

POLITIK DALAM NEGERI - SBY Amanatkan Kongres Demokrat Tetap Digelar Tahun 2020


Politik Dalam Negeri, Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengamanatkan agar Kongres Partai Demokrat tetap digelar sesuai jadwal pada tahun 2020. Hal itu disampaikan SBY saat bertemu dengan seluruh Ketua DPD Demokrat se-Indonesia di kediamannya di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Kamis kemarin.
"Amanat Beliau (SBY) Kongres PD sesuai jadwal pada tahun 2020," kata Ketua DPD Demokrat DKI Jakarta, Santoso di Jakarta, Kamis (11/7/2019) malam.

BACA JUGA :
PT RIFAN FINANCINDO - Komoditas Emas Akan Jadi Primadona 
RIFAN FINANCINDO - Investasi Emas Masih Primadona di Tahun Politik
PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Emas masih akan Menjadi Komoditas Paling Menarik untuk Investasi Berjangka Tahun ini 
PT RFB - Berikan Gambaran Investasi di Tahun 2019, RFB Gelar Investment Outlook
    Menurut dia, dalam pertemuan dengan Ketua DPD Demokrat se-Indonesia, SBY belum memberikan arahan atau informasi tentang koalisi Demokrat ke depan usai Pemilu 2019.
    "Belum ada arahan atau informasi soal koalisi dari Pak SBY di acara pagi tadi," ujar Santoso.
    Namun demikian, kata dia, SBY meminta seluruh pengurus Demokrat menjaga soliditas hingga ke tingkat bawah.
    Dia menyampaikan dalam kesempatan itu, SBY mengucapkan rasa terima kasihnya atas perhatian dan simpati seluruh pengurus serta kader Demokrat sejak istrinya Ani Yudhoyono meninggal hingga 40 hari wafatnya almarhumah.

    Desakan Kongres Dipercepat

    Gejolak internal Partai Demokrat mencuat setelah Hengky Luntungan mendesak agar kongres besar untuk menentukan ketua umum baru digelar. Hengky yang menyatakan diri sebagai pendiri Demokrat mengatakan, desakan itu disuarakan setelah melihat hasil kepimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai ketua umum.
    "DPP harus segera melaksanakan kongres dipercepat selambat-lambatnya bulan September 2019 agar Partai Demokrat dapat diselamatkan untuk bisa besar kembali," ujar Hengky, saat menggelar konferensi pers di Jakarta Selatan, Selasa 2 Juli 2019.
    Hengky bersama beberapa pendiri partai berlambang Mercy biru itu mengaku kecewa atas kepemimpinan SBY selama menjabat sebagai ketua umum. Menurut dia, banyak pelanggaran Anggaran Dasar Rumah Tangga (ADRT) Partai Demokrat yang dilakukan SBY.
    Pelanggaran yang dimaksud adalah membuat jabatan-jabatan struktur yang bukan hasil kongres dan membuat organisasi Kogasma sebagai alat pemenangan Pilpres dan Pileg.
    Hengky juga menyebut, SBY melupakan jasa pendiri Partai Demokrat yang ditandai adanya konflik kepentingan agar Agus Harimurthi Yudhoyono (AHY), anak sulung SBY, meneruskan tahta pucuk tertinggi partai secara aklamasi.
    "Tidak berhasil mencalonkan AHY dalam Pilpres malah menimbulkan masalah hiruk pikuk dukungan liar karena tetap hanya berfikir kepentingan keluarga, agar AHY bisa jadi ketua umum secara aklamasi atau bisa jadi menteri Jokowi. Artinya masa bodoh dengan kehancuran partai," ungkapnya.
    Dia memastikan, pada kongres Demokrat nanti, siapapun bisa mencalonkan diri sebagai ketua umum, termasuk AHY.
    "Mempersilakan AHY maju sebagai calon Ketua Umum Partai Demorkat dan terbuka untuk para calon Ketua Umum yang lain dari internal atau eksternal," kata Hengky.

    Sumber : Liputan 6

    Wednesday, July 10, 2019

    POLITIK DALAM NEGERI - 3 Temuan KPK Lewat OTT yang Melibatkan Gubernur Kepri


    Politik Dalam Negeri, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih memeriksa Gubernur Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Nurdin Basirun yang terjaring dalam operasi tangkap tangan (OTT), Rabu malam, 10 Juli 2019. Nurdin diduga menerima suap terkait izin lokasi rencana reklamasi.
    Bersama Nurdin, para penyidik KPK juga berhasil mengamankan uang sebesar 6 ribu dolar singapura.

    BACA JUGA :
    PT RIFAN FINANCINDO - Komoditas Emas Akan Jadi Primadona 
    RIFAN FINANCINDO - Investasi Emas Masih Primadona di Tahun Politik
    PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Emas masih akan Menjadi Komoditas Paling Menarik untuk Investasi Berjangka Tahun ini 
    PT RFB - Berikan Gambaran Investasi di Tahun 2019, RFB Gelar Investment Outlook
      Saat diamankan Nurdin tidak sendiri. Lembaga antirasuah ini juga menangkap lima orang lainnya yang masing-masing menjabat sebagai kepada dinas (Kadis), kabid (Kepala Bidang), dan pihak swasta.
      "Ada enam orang yang diamankan tim dan dibawa ke Polres setempat. Kepala daerah, kadis, kabid, PNS dan swasta," ungkap Juru Bicara KPK Febri Diansyah, Rabu 10 Juli 2019.
      Berikut temuan KPK dari OTT yang melibatkan Gubernur Kepri Nurdin Basirun :

      6 Orang Diamankan

      KPK mengamankan enam orang dalam OTT yang digelar Rabu, 10 Juli 2019. Mereka langsung diamankan ke polres setempat.
      Sebelumnya, Juru Bicara KPK Febri Diansyah belum mau mengungkap lebih rinci, siapa saja yang ditangkap. Belakangan dia menyebut salah satunya diduga Gubernur Kepri Nurdin Basirun.
      "Kepala daerah, kadis, kabid, PNS dan swasta," kata Febri.
      Kini KPK memiliki waktu 1x24 jam untuk menentukan status hukum Gubernur Kepri dan kelima orang lainnya.

      Dugaan Kasus Suap Dana Izin Reklamasi

      Hingga pagi ini, Kamis (11/7/2019), Gubernur Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Nurdin Basirun bersama dua kepala dinas, dua ASN dan seorang pengusaha, masih menjalani pemeriksaan intensif.
      Keenamnya mulai menjalani pemeriksaan intensif sejak pukul 18.30 WIB, Rabu 10 Juli 2019.
      Para terperiksa itu terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK, terkait dugaan kasus suap dana izin reklamasi.
      "Diduga transaksi terkait izin lokasi rencana reklamasi di Kepri," kata Febri.

      Sita 6 Ribu Dolar Singapura

      Gubernur Kepulauan Riau Nurdin Basirun diduga menerima suap terkait izin lokasi rencana reklamasi di Kepulauan Riau. Bersama Nurdin, tim penindakan mengamankan uang dolar Singapura.
      "Diamankan uang SGD 6 ribu," ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Rabu (10/7/2019).
      Selain Nurdin, tim penindakan juga mengamankan lima orang lainnya. Mereka kini tengah menjalani pemeriksaan awal oleh tim penindakan KPK.
      "Ada 6 orang yang diamankan tim dan dibawa ke Polres setempat. Kepala daerah, kadis, kabid, PNS dan swasta," kata Febri.

      Sumber : Liputan 6

      Tuesday, July 9, 2019

      POLITIK DALAM NEGERI - PPP Tak Akan Usulkan Lagi Lukman Hakim Jadi Menteri Jokowi


      Politik Dalam Negeri, Bogor - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mengatakan partainya tak akan mengusulkan lagi nama Lukman Hakim Saifuddin menjadi menteri dalam pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin. Adapun Lukman kini menjabat sebagai Menteri Agama.
      "Kami ini cenderung menganut prinsip gantian gitu ya. Jadi ini setuju semua kalau soal prinsip," ujar Sekjen PPP Arsul Sani usai bertemu Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan Bogor Jawa Barat, Selasa 9 Juli 2019.

      BACA JUGA :
      PT RIFAN FINANCINDO - Komoditas Emas Akan Jadi Primadona 
      RIFAN FINANCINDO - Investasi Emas Masih Primadona di Tahun Politik
      PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Emas masih akan Menjadi Komoditas Paling Menarik untuk Investasi Berjangka Tahun ini 
      PT RFB - Berikan Gambaran Investasi di Tahun 2019, RFB Gelar Investment Outlook
        Dia menyebut, pengurus PPP yang bertemu Jokowi bisa saja diajukan oleh Plt Ketum PPP Suharso Monoarfa menjadi calon menteri di kabinet Jokowi selanjutnya. Sementara Lukman, kata dia, akan diberikan tugas lain oleh partai.
        "Tapi sebagai partai kader, kami juga harus berikan kesempatan kader lain untuk bisa duduki jabatan-jabatan di pemerintahan," ucap anggota Komisi III DPR itu.
        Arsul mengaku hingga kini partainya belum memutuskan siapa yang akan disodorkan kepada Jokowi untuk menjabat menteri. Menurut dia, Jokowi pun heran mengapa partainya belum juga menyetorkan nama menteri untuk kabinet periode selanjutnya.
        "Pak Jokowi malah secara terbuka mempersilahkan, kesannya agak menantang PPP kenapa kok belum mengajukan jumlah nama portofolio di kabinet, kok kalah sama PKB dan Nasdem," tuturnya.

        Menteri Sejak Era SBY

        "Kami malah dipersilahkan kalau mau meminta berapa gitu dipersilahkan atau untuk menyampaikannya juga kepada publik" sambung Arsul.
        Lukman Hakim telah menjabat menjadi Menteri Agama sejak era Presiden Susilo Banbang Yudhoyono atau Kabinet Indonesia Bersatu jilid II. Lukman kembali jadi Menteri Agaman di era Jokowi-Jusuf Kalla.

        Sumber : Liputan 6

        Sunday, July 7, 2019

        POLITIK DALAM NEGERI - Ketum HMI Berharap Jokowi Perhitungkan Aktivis Cipayung Masuk Kabinet


        Politik News Update, Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Respiratori Saddam Al Jihad berharap Presiden terpilih Joko Widodo atau Jokowi memperhitungkan keterwakilan aktivis pemuda kelompok Cipayung pada pengisian menteri kabinet periode 2019-2024
        "Pemerintahan yang kuat perlu adanya kolaborasi antar-generasi di pemerintahan, yang dikuatkan dengan kehadiran aktivis pemuda dari kelompok Cipayung," kata R Saddam Al Jihad melalui keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (7/7/2019).

        BACA JUGA :
        PT RIFAN FINANCINDO - Komoditas Emas Akan Jadi Primadona 
        RIFAN FINANCINDO - Investasi Emas Masih Primadona di Tahun Politik
        PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Emas masih akan Menjadi Komoditas Paling Menarik untuk Investasi Berjangka Tahun ini 
        PT RFB - Berikan Gambaran Investasi di Tahun 2019, RFB Gelar Investment Outlook
          Saddam, panggilan R Saddam Al Jihad menegaskan, ada empat aktivis pemuda kelompok Cipayung yang merupakan mantan ketua umum ormas kemahasiswaan yang patut diperhitungkan pada pengisian kursi menteri kabinet.
          Pertama, drg Arief Rosyid Hasan, mantan Ketua Umum PB HMI dan Pelaksana tugas Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia (DMI). Arief Rosyid Hasan juga menjalani profesinya sebagai dokter gigi.
          "Beliau potensial mengisi kabinet sesuai bidangnya, yaitu kesehatan dan keagamaan," kata Saddam seperti dikutip Antara.
          Kedua, Aminudin Ma’ruf, mantan Ketua Umum PB PMII dan Sekjen Samawi (Solidaritas Ulama Muda Jokowi) yang memiliki visi nasionalis religius, juga potensial untuk masuk di kabinet pemerintahan 2019-2024
          Ketiga, Sahat Martin P Sinurat, mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI), juga inisiator rumah milenial. Sahat adalah alumni ITB dan potensial masuk kabinet pemerintahan 2019-2024.
          Keempat, Twedy Noviady Ginting, mantan Ketua Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Twedy dikenal sebagai sosok yang mengawal Pancasila dan potensial untuk masuk kabinet pemerintahan 2019-2024.

          Tidak Hanya Menpora

          Kandidat doktor ilmu pemerintahan ini menjelaskan, dalam pengisian kursi menteri kabinet hendaknya tidak ada dikotomi bahwa pemuda hanya cocok untuk mengisi kursi menteri pemuda dan olahraga.
          "Hendaknya tidak ada dikotomi untuk generasi muda hanya pada jabatan Menpora, tapi pemuda juga potensial untuk jabatan lainnya," kata Saddam.
          Dia juga menaruh harapan besar Presiden terpilih akan mengisi menteri kabinet pemerintahan mendatang secara proporsional dan mengutamakan kompetensi figur tanpa mendikotomikan faktor usia.

          Sumber : Liputan 6

          Wednesday, July 3, 2019

          POLITIK DALAM NEGERI - Hari Terakhir Pendaftaran, Sudah 205 Orang Daftar Calon Pimpinan KPK


          Politik Dalam Negeri, Jakarta Ketua Pansel calon pimpinan (capim) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengatakan hingga Kamis pagi ini, total ada 205 orang yang telah mendaftarkan diri untuk menjadi komisioner lembaga antirasuah. Adapun dua diantaranya, berasal dari unsur Pimpinan KPK periode 2015-2019.
          "Sampai pagi ini ada 205 pendaftar, 2 Komisioner KPK," kata Yenti saat dikonfirmasi Liputan6.com, Kamis (4/7/2019).

          BACA JUGA :
          PT RIFAN FINANCINDO - Komoditas Emas Akan Jadi Primadona 
          RIFAN FINANCINDO - Investasi Emas Masih Primadona di Tahun Politik
          PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Emas masih akan Menjadi Komoditas Paling Menarik untuk Investasi Berjangka Tahun ini 
          PT RFB - Berikan Gambaran Investasi di Tahun 2019, RFB Gelar Investment Outlook
            Kendati begitu, dia enggan mengungapkan siapa sosok dua komisioner KPK saat ini yang kembali maju lagi menjadi pimpinan. Selain komisioner KPK, para calon juga berasal dari unsur polri, jaksa-hakim, hingga advokat.
            "Pengacara 43 orang, akademisi 40 orang, swasta 20 orang, jaksa/hakim 13 orang, Polri 9 orang, auditor 3 orang. Sisanya berasal dari berbagai latar belakang," jelas Yenti. 
            Menurut dia, jumlah pendaftar masih akan terus bertambah hingga penutupan pendaftaran, Kamis (4/7/2019), pukul 16.00 WIB.
            Terkait apakah pendaftaran capim KPK akan diperpanjang atau tidak, Yenti menyebut pihaknya masih mempertimbangkan.
            "Kami akan menggelar rapat semua Pansel KPK hadir. Rapat jam 13.00 WIB untuk memutusakan apa akan diperpanjang atau tidak," tutur dia.

            Nama Populer Ikut Mendaftar

            Adapun salah satu nama yang diketahui maju sebagai capim KPK adalah mantan Kepala Badan Reserse Kriminal (Bareksrim) Polri Komjen (Purn) Anang Iskandar. Anang lebih memilih untuk mengantarkan sendiri berkas pendaftarannya ke Sekretariat Pansel Capim KPK, Kemensetneg.
            Selain mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) itu, ada sejumlah Pati yang disebut juga mendaftarkan diri sebagai capim KPK. 
            Daftar nama Pati yang beredar adalah Wakabreskrim Irjen Antam Novambar, Irjen Dharma Pongrekun yang saat ini bertugas di Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Irjen Coki Manurung yang merupakan Widyaiswara Lemdiklat, Analis Kebijakan Utama bidang Polair Baharkam Irjen Abdul Gofur.
            Selain itu, Brigjen Muhammad Iswandi Hari yang bertugas di Kemenakertrans, dosen Sespim Polri Brigjen Bambang Sri Herwanto, Brigjen Agung Makbul di Divisi Hukum Polri, Analis Kebijakan Utama Lemdiklat Brigjen Juansih, serta Wakapolda Kalbar Brigjen Sri Handayani.
            Berbeda dengan Anang yang mendaftarkan diri tanpa embel-embel Polri, sembilan Pati tersebut merupakan nama yang direkomendasikan oleh Kapolri.

            Sumber : Liputan 6

            Tuesday, July 2, 2019

            POLITIK DALAM NEGERI - Jokowi-Ma'ruf Segera Susun Kabinet 2019-2024


            Politik Dalam Negeri, Bogor - Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Arsul Sani menyebut presiden dan wakil presiden terpilih, Joko Widodo - Ma'ruf Amin segera menyusun kabinet periode 2019-2024, setelah bertemu dengan tim hukum, TKN, dan pimpinan Partai Politik (Parpol).
            "Pak Jokowi tidak menutup kemungkinan segera, setelah tadi malam pertemuan dengan tim hukum, dengan TKN dan TKD, kemudian akan disusul dengan pimpinan partai politik," ujar Arsul seperti dikutip dari Antara, Rabu (3/7/2019).

            BACA JUGA :
            PT RIFAN FINANCINDO - Komoditas Emas Akan Jadi Primadona 
            RIFAN FINANCINDO - Investasi Emas Masih Primadona di Tahun Politik
            PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Emas masih akan Menjadi Komoditas Paling Menarik untuk Investasi Berjangka Tahun ini 
            PT RFB - Berikan Gambaran Investasi di Tahun 2019, RFB Gelar Investment Outlook
              Meski begitu, menurutnya hingga kini waktu penentuan anggota kabinet Jokowi di periode kedua belum ditentukan, mengingat padatnya agenda Jokowi sebagai Presiden.
              Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu mengatakan, meski TKN tidak memiliki porsi dalam menentukan anggota kabinet Jokowi pada periode 2019-2024, tapi menurutnya tidak diharamkan jika TKN mengusulkan nama untuk dijadikan anggota kabinet Jokowi.
              "Tentu di antara TKN dan bahkan TKD tidak menutup kemungkinan diminta Pak Jokowi-Ma'ruf Amin untuk membantu dalam pemerintahanya, apakah posisi di kabinet atau di posisi lain itu tentu hak prerogatif beliau," tuturnya.

              Tugas TKN Selesai

              Asrul mengatakan bahwa tugas TKN dan TKD Jokowi - Ma'ruf sudah selesai sampai KPU RI menetapkan Presiden dan Wakil Presiden Terpilih. Tapi, menurutnya TKN dan TKD yang juga ada dalam Koalisi Indonesia Kerja, akan terus mengawal pemerintahan Jokowi, bahkan sampai Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.
              "Kalau dari sisi tugas sudah selesai semua. Kalau koalisi Indonesia Kerja tetap ada, yang terdiri dari sembilan partai dan belakangan PBB masuk. Tetap akan mengawal Pemerintahan Pak Jokowi sampai Pemilu yang akan datang," kata Asrul.

              Sumber : Liputan 6

              Monday, July 1, 2019

              POLITIK DALAM NEGERI - Suara Kader Terbelah Tentukan Arah Politik Partai Demokrat


              Politik Dalam Negeri, Jakarta - Partai Demokrat belum menentukan arah politik usai pelaksanaan Pilpres 2019.  Sejumlah kader partai meminta menjadi oposisi, sebagian lainnya ingin bergabung dengan pemerintahan Joko Widodo atau Jokowi.
              "Per hari ini ada yang mau minta di posisi saja, atau di luar seperti sekarang ada juga. Ada yang juga yang berpendapat bagus bersama-sama," ungkap Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin 1 Juli 2019.

              BACA JUGA :
              PT RIFAN FINANCINDO - Komoditas Emas Akan Jadi Primadona 
              RIFAN FINANCINDO - Investasi Emas Masih Primadona di Tahun Politik
              PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Emas masih akan Menjadi Komoditas Paling Menarik untuk Investasi Berjangka Tahun ini 
              PT RFB - Berikan Gambaran Investasi di Tahun 2019, RFB Gelar Investment Outlook
                Hinca mengatakan, arah politik Demokrat akan ditentukan dalam rapat Majelis Tinggi yang akan digelar pada 10 Juli 2019 mendatang.
                "Majelis tinggi baru akan bersidang sesudah masa kedukaan yang kami sampaikan 10 juli selesai. Nanti di situ diputuskan posisi Partai Demokrat," kata Hinca.
                Dia memastikan, Majelis Tinggi Partai Demokrat akan menampung seluruh aspirasi dan keinginan kader. Setelah itu, dibahas dalam rapat tersebut, kemudian diputuskan oleh Ketua Umum Susilo Bambang Yudhoyono.
                "Di Demokrat kalau sudah diputuskan oleh ketum, maka semuanya ikut," kata Hinca.

                Masih Berduka

                Sebelumnya, Hinca menyebut, akan menentukan nasib arah partai sampai dengan 10 Juli 2019, atau bertepatan setelah 40 hari kepergian Ani Yudhoyono.
                "Partai Demokrat masih berduka sampai nanti 10 Juli. Setelah itu, kami akan sampaikan bagaimana sikap Partai Demokrat. Sekarang masih internal dulu," kata Hinca dikutip dari Jawapos.com, saat menghadiri rapat pleno penetapan presiden dan wakil presiden terpilih di Kantor KPU, Jakarta, Minggu 30 Juni 2019.
                Dia mengatakan, persoalan arah politik itu nantinya akan dibahas melalui tingkatan majelis mahkamah partai bersama dengan Ketua Umum Partai Demokrat SBY. Setelah melalui rapat itu, baru akan diputuskan arah partai berlambang mercy tersebut.
                "Nanti majelis tinggi partai yang akan menyampaikan keputusannya," terangnya.

                Sumber : Liputan 6